>

Selasa, 07 Oktober 2014

Tanam Paksa (Cultuurstelsel)



A.Pengertian Tanam Paksa
Cultuurstelsel secara harafiah yaitu sistem budaya,yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa. Sistem tanam paksa adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.
Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.
Tanam Paksa (CultuurStelsel)

B.Latar belakang adanya Tanam Paksa
Pada tahun 1830, Johannes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda yang diserahi tugas tugas utama meningkatkan produksi tanaman ekspor yang terhenti selama sistem pajak tanah berlangsung. Beban tugas yang berat tersebut didorong oleh keadaan parah keuangan negeri Belanda karena hutang yang besar. Menurut Poesponegoro (2008: 325) menyatakan bahwa masalah keuangan yang membelit Belanda tidak dapat ditanggulangi Belanda sendiri, pemikiran timbul untuk mencari pemecahan-pemecahannya di koloni-koloninya di Asia, yaitu di Indonesia. Hasil pertimbangan-pertimbangan ini menjadi gagasan Sistem Tanam Paksa yang diintroduksi oleh van den Bosch sendiri.
Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) merupakan sebuah eksperimen unik dalam rekayasa sosio-ekonomi.  Van den Bosch  adalah salah satu orang dari Belanda yang diangkat menjadi Komisaris Jenderal yang memiliki kekuasaan luar biasa, yang pada saat itu menguasai sepenuhnya di Indonesia. Ia menerapkan Sistem Tanam Paksa untuk orang-orang pribumi Jawa guna sebagai bentuk pembaharuan dari sistem sebelumnya yang pernah mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya, yaitu sistem pajak tanah. Sebelumnya, pelaksanaan sistem ini  menimbulkan beberapa sikap buruk yang dimiliki dari orang Belanda, diantaranya Belanda tidak dapat menciptakan hubungan baik dengan pihak petani Jawa, sehingga kekerabatan antara mereka tidak terjalin dengan baik. Belanda juga tidak mencoba untuk mendekati para bupati dan kepala desa, yang nantinya dapat membantu mereka untuk mengekspor  tanaman-tanaman yang terdapat di Jawa untuk dimanfaatkan pihak Belanda sendiri.
Melihat kegagalan dari sistem tersebut, akhirnya Van den Bosch beralih ke sistem yang baru yaitu cultuurstelsel (tanam paksa). Dengan mengamati letak geografis di pulau Jawa  yang sangat luas dan memiliki berbagai macam tanaman berharga, Belanda membuat peraturan baru yang jauh berbeda dari sistem sebelumnya. Diantaranya adalah merubah strategi pada pajak yang dikehendaki dengan mengharuskan rakyat Jawa membayarnya dalam bentuk barang, yaitu menyerahkan sebagian hasil-hasil pertanian mereka untuk diserahkan kepada pihak Belanda, bukan lagi dengan menyerahkan dalam bentuk uang yang dilakukan pada masa pajak tanah.
Setelah tiba di Indonesia (1830) Van den Bosch menyusun program sebagai berikut :
1.      sistem sewa tanah dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaannya sulit.
2.      Sistem tanam bebas harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah.  
3.      Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya kepada pemerintah Belanda.

A. Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa (1830-1870).
Pelaksanaan Sistem tanam paksa tertuang dalam ketentuan-ketentuan pokok dalam Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1834, no 22 berbunyi sebagai berikut:
1.      Persetujuan-persetujuan akan diadakan dengan penduduk agar mereka menyediakan sebagian dari tanahnya untuk penanaman tanaman dagangan yang dapat dijual di pasaran Eropa.
2.      Bagian dari tanah pertanian yang disediakan penduduk untuk tujuan in tidak boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa.
3.      Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman dagangan tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
4.      Bagian dari tanah yang disediakan untuk menanam tanaman dagangan dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
5.      Tanaman dagangan yang dihasilkan di tanah-tanah yang disediakan, wajib diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda; jika nilai hasil-hasil tanaman dagangan yang ditaksir melebihi pajak yang harus dibayar rakyat, maka selisih positifnya harus diserahkan kepada rakyat.
6.      Panen tanaman dagangan yang gaagl harus dibebankan kepada pemerintah, sedikit-dikitnya jika kegagalan ini tidak disebabkan oleh kurang rajin atau ketekunan pihak rakyat.
7.      Penduduk desa mengerjakan tanah – tanah meeka dibawah pengawasan kepala –kepala mereka, sedangkan pegawai – pegawai Eropa hanya membatasi diri pada pengawasan apakah pengawasan pembajakan tanah, panen, dan pengangkutan tanaman – tanaman agar berjalan dengan baik dan tepat waktu.
Menurut ketentuan-ketentuan diatas memang tidak terlihat pemerintah Belanda menekan rakyat. Namun di dalam prakteknya pelaksanaan sistem tanam paksa sering sekali menyimpang jauh dari ketentuan-ketentuan di atas, sehingga rakyat banyak dirugikan (Kecuali mungkin ketentuan nomor 4 dan 7). Dalam menjalankan tanam paksa pemerintah Belanda menggunakan ikatan komunal dan ikatan desa untuk mengorganisir masyarakat. Van den bosch menggunakan pengaruh para bupati sehingga kekuasaan para bupati menjadi luas selain itu para bupati dan kepala desa mendapatkan cultuurprocenten disamping pendapatan yang didapat dari pemerintah, cultuurprocenten ini presentase tertentu dari penghasilan yang diperoleh dari penjualan tanaman tanaman ekspor yang diserahkan kepada pegawai Belanda, bupati dan kepala desa jika mereka berhasil mencapai atau melampaui target produksi yang dibebankan kepada setiap desa. Cara-cara ini tentu saja menimbulkan banyak penyelewengan yang merugikan rakyat karena pegawai Belanda maupun para bupati dan kepala desa mempunyai keuntungan sendiri dalam usaha untuk meningkatkan produksi tanaman dagang untuk ekspor.
Salah satu akibat yang sangat penting dari tanam paksa adalah meluasnya bentuk tanah milik bersama (komunal). Hal ini dikarenakan para pegawai pemerintah kolonial cenderuing memperlakukan desa dengan semua tenaga kerja yang tersedia dan tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa sebagai satu keseluruhan untuk memudahkan pekerjaan mereka dalam menetapkan tugas penanaman paksa yang dibebankan pada setiap desa. Jika para pegawai pemerintah Belanda misalnya harus mengadakan persetujuan yang terpisah dengan setiap petani, memperoleh seperlima bidang tanah mereka, hal ini akan mempersulit mereka. Maka akan jauh lebih mudah untuk menetapkan target yang harus dicapai oleh masing-masing desa sebagai satu keseluruhan desa.

B.Dampak Terjadinya Tanam Paksa Di Indonesia
Dampak dari terjadinya tanam paksa di Indonesia dapat dikelompokkan dalam beberapa bidang yaitu :
1.      Dalam bidang pertanian
Culture stelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman "tradisional" penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.
2.      Dalam bidang sosial
Dalam bidang pertanian, khususnya dalam struktur agraris tidak mengakibatkan adanya perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip pada pemerataan dalam pembagian tanah. Ikatan antara penduduk dan desanya semakin kuat hal ini malahan menghambat perkembangan desa itu sendiri. Hal ini terjadi karena penduduk lebih senang tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk perkembangan kehidupan penduduknya.
3.      Dalam bidang ekonomi
Dengan adanya tanam paksa tersebut menyebabkan pekerja mengenal sistem upah yang sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih mengutamakan sistem kerjasama dan gotongroyong terutama tampak di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula. Dalam pelaksanaan tanam paksa, penduduk desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, sehingga banyak terjadi sewa menyewa tanah milik penduduk dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil produksi tanaman eksport bertambah, mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk ikut menguasai pertanian di Indonesia di kemudian hari.
Akibat lain dari adanya tanam paksa ini adalah timbulnya “kerja rodi” yaitu suatu kerja paksa bagi penduduk tanpa diberi upah yang layak, menyebabkan bertambahnya kesengsaraan bagi pekerja. Kerja rodi oleh pemerintah kolonial berupa pembangunan-pembangunan seperti; jalan-jalan raya, jembatan, waduk, rumah-rumah pesanggrahan untuk pegawai pemerintah kolonial, dan benteng-benteng untuk tentara kolonial. Di samping itu, penduduk desa se tempat diwajibkan memelihara dan mengurus gedung-gedung pemerintah, mengangkut surat-surat, barang-barang dan sebagainya. Dengan demikian penduduk dikerahkan melakukan berbagai macam pekerjaan untuk kepentingan pribadi pegawai-pegawai kolonial dan kepala-kepala desa itu sendiri.
Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung untuk mengadakan eskploitasi agraris semaksimal mungkin. Oleh karena ittu, sistem tanam paksa menimbulkan akibat secara umum yaitu:
1.   Bagi Indonesia
a.       Sawah ladang menjadi terbengkalai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun drastis
b.      Beban rakyat semakin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panennya, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, dan menanggung risiko apabila panen gagal
c.       Akibat bermacam-macam beban, menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan
d.      Timbulnya bahaya kemiskinan yang makin berat
e.       Timbulnya bahaya kelaparan dan wabah penyakit dimana-mana sehingga angka kematian meningkat drastis. Bahaya kelaparan menimbulkan korban jiwa yang sangat mengerikan di daerah Cirebon (1843), Demak (1849), dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah penduduk menurun darstis. Disamping itu, juga terjadi penyakit busung lapar (hongorudim) dimana-mana.
2.   Bagi Belanda
a.       Keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda
b.      Hutang-hutang Belanda terlunasi
c.       Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja
d.      Kas Negeri Belanda yang semula kosong dapat terpenuhi
e.       Amsterdam berhasil dibangun menjadi kota pusat perdagangan dunia dan perdagangan berkembang pesat

C.Dampak Positif Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa
Pelaksanaan sistem tanam paksa di Indonesia (1830-1870) bagi negeri Belanda telah mampu menghapuskan utang-utang internasionalnya bahkan  menjadikannya sebagai pusat perdagangan dunia untuk komoditi tropis (Fauzi, 1999:31). Dari pernyataan tersebut kita dapat mengetahui betapa pelaksanaan sistem tanam paksa di Indonesia ini telah memberikan keuntungan yang melimpah bagi negeri Belanda, namun tidak halnya bagi masyarakat Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, sistem tanam paksa telah menimbulkan berbagai akibat pada masyarakat pedesaan utamanya berkaitan dengan hak kepemilikan tanah dan ketenagakerjaan. Meskipun demikian, pelaksaan sistem tanam paksa sedikit banyak juga telah memberikan nilai-nilai positif bagi masyarakat di pedesaan.
Dalam tanam paksa, jenis tanaman wajib yang diperintahkan untuk ditanam adalah kopi, tebu, dan indigo. Dengan diperkenalkannya tanaman-tanamn ekspor ini maka masyarakat dapat mengetahui tanaman apa saja yang bernilai jual tinggi di pasaran internasional. Dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat tradisional tentang tanaman ekspor, maka tentunya etos kerja masyarakat akan mengalami peningkatan.
Sistem tanam paksa dapat diibaratkan sebagai 1 keping uang logam, disatu sisi pelaksanannya telah memunculkan satu kerugian bagi masyarakat pedesaan Indonesia, namun disisi lain sistem tanam paksa juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Dampak positif dari sistem tanam paksa itu sendiri dapat dijabarkan sebagaimana berikut:

1.      Belanda menyuruh rakyat untuk menanam tanaman dagang yang bernilai jual untuk diekspor Belanda. Dengan ini rakyat mulai mengenal tanamn ekspor seperti kopi, nila, lada, tebu.
2.      Diperkenalkannya mata uang secara besar – besaran samapai lapisan terbawah masyarakat Jawa.
3.      Perluasan jaringan jalan raya. Meskipun tujuannya bukan untuk menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia melainkan guna kepentingan pemerintah Belanda sendiri, tetapi hal ini mencipatakan kegiatan ekonomi baru orang Jawa dan memungkinkan pergerakan penduduk desa masuk ke dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan uang.
4.      Berkembangnya industialisasi di pedesaan

Jangan Lupa Follow dan Subcribe :)

Sabtu, 04 Oktober 2014

Kumpulan templete lucu untuk blog dan cara memasangnya

Hai Para Blogger dan kalian yang menyukai Doraemon/Hello Kitty.
saya sharing templete lucu doraemon dan hello kitty untuk kalian para penggemarnya!

 KUMPULAN TEMPLATE
DORAEMON!!!



Template I
Template II
Template III
 

Template IV

Template V




























KUMPULAN TEMPLATE
HELLO KITTY!!!



Template HK 1

Template HK 2

Template HK 3

Template HK 4





















































       

 

 

       Cara memasang
        "Templete"

  1. Download/Save as Templatenya. Pilih template yang clean, dan fast loading.

  2. Login ke Blogger. Ketik www.blogger.com di address bar browser Anda.

  3. Klik menu Template / Tampilan di kiri bawah Dashborad Blog.

  4. Klik menu Backup/Restore (Cadangkan/Pulihkan) di kanan atas Dashboard Blog.

  5. Klik Choose File / Pilih File. Klik file ekstensi XML yang sudah didownload/diekstrak.

  6. Klik Upload (Unggah). Tunggu hingga selesai.

  7. Beres! Selamat, tampilan blog Anda sudah berubah!

     

    Jangan Lupa Follow aku di blog ya !!!
    atau add/follow sosmedku^^
    Facebook ,Twitter, Instagram


Kamis, 02 Oktober 2014

3600 detik (Novel Remaja)

Novel Remaja 3600 Detik

Sandra sangat terpukul ketika orangtuanya bercerai.... Dan hatinya semakin sakit ketika ayahnya memutuskan ia harus tinggal bersama ibunya, yang selama ini tak pernah dekat dengannya. Kemarahan yang menggelora menjadikan Sandra remaja yang bandel. Berulang kali ia dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya di luar batas.

Akhirnya ibunya memutuskan untuk pindah kota. Mungkin suasana dan lingkungan baru akan mengubah perilaku putrinya. Namun di sekolahnya yang baru ini Sandra sudah bertekad untuk membuat dirinya dikeluarkan lagi. Ia bertekad akan membuat ulah agar para guru tak tahan terhadapnya. Namun ia salah perkiraan. Pak Donny, sangat sabar menghadapinya. Wali kelasnya itu berpendapat, mengeluarkan Sandra berarti menuruti keinginan anak bandel ini.

Namun, lambat laun Sandra berubah. Orangtua maupun gurunya heran. Mereka yakin, Leon-lah yang membuat gadis itu berubah. Mereka juga bertanya-tanya, kenapa Leon bisa bersahabat dengan Sandra, sementara murid-murid yang lain justru menjauhi gadis urakan itu. Apa yang membuat Leon tertarik padanya, padahal keduanya bagaikan langit dan bumi. Leon adalah anak rumahan yang manis, bintang pelajar, sopan, tekun... berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Sandra....

Ingin membaca selanjutnya ? http://www.goodreads.com/book/show/6340287-3600-detik ..
1. Buka link itu.
2. Sign Up (jika tidak punya akunnya/ sign in with facebook)

Selamat membaca kawan^^

Senin, 09 Desember 2013

Lyrics Celine Dion - My heart will go on

Every night in my dreams
I see you. I feel you
That is how i know you go on
Far across the distance
And spaces between us
You have come to show you go on

Near, far, wherever you're
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you're here in my heart
And my heart will go on and on

Love can touch us one time
And last for a lifetime
And never go till we're gone
Love was when i loved you
One true time i hold you
In my life we'll always go on

Near, far, wherever you're
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you're here in my heart
And my heart will go on and on
There is some love that will not
go away

You're here, there's nothing i fear
And i know that my heart will go on
We'll stay forever this way
You're safe in my heart
And my heart will go on and on

Senin, 11 November 2013

Peristiwa Sekitar Proklamasi

                          "PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI"


  •                                               "KELOMPOK URANUS"


                                             Anggota : 1. Maggie Ivana Lugiman
                                                              2. Shafa Salsabila
                                                              3. Dalfa Fauzi
                                                              4. Farhan Sigit Suhendi
                                                              5. Rafli Ramdani

                                                             Kelas : 7(Seven)A
                                          




                                              "SMPN 1 BANJARSARI"    



  • PERISTIWA RENGASDENGKLOK

    Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (a.l.) Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
    Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
    Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
    Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
    Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.

    PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI

    Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan dirumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No.1 (sekarang Perpustakaan Nasional, Depdiknas). Naskah proklamasi dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo.


    Tulisan tangan naskah teks proklamasi. Inilah konsep teks proklamasi kemerdekaan yang semula ditulis diatas secarik kertas oleh Ir. Soekarno. Coretan-coretan yang terdapat dalam konsep itu menunjukkan banyaknya pertimbangan sebelum tercapainya kata sepakat mengenai kepastian isi dan redaksinya. Penyusunan teks berlangsung hingga dini hari tanggal 17 Agustus 1945.

    Dalam perumusan naskah proklamasi itu, Ir. Soekarno membuat konsep dan kemudian disempurnakan dengan pendapat dari Drs. Moh. Hatta dan Ahmad Subardjo. Saat menjelang Subuh, naskah proklamasi berhasil diselesaikan dan Ir. Soekarno membuka pertemuan dengan para hadirin. Ir. Soekarno menyarankan kepada seluruh yang hadir itu agar menandatangani naskah proklamasi sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran Ir. Soekarno itu diperkuat oleh Drs. Moh. Hatta dengan mengambil contoh pada Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) yang ditandatangani oleh 13 utusan dari negara-negara bagian. Namun, usul itu ditentang oleh seorang tokoh golongan pemuda yaitu Sukarni. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani naskah proklamasi adalah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni itu diterima dengan baik oleh para hadirin.

    Setelah mendapat persetujuan, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik sesuai dengan naskah tulisan tangannya yang telah mengalami perubahan-perubahan yang telah disepakatinya.

    PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

                Tanggal 17 agustus 1945 merupakan hari bersejarah untuk indonesia,yakni kemerdekaan bangsa indonesia. Pada tanggal tersebut,secara spontan,para pemuda indonesia berkumpul di lapangan Ikatan Atletik Jakarta (ikada) yang terletak di sebelah tenggara Monumen Nasional (MONAS) untuk besrsama-sama mendengarkan pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Ternyata,hal ini di dengar oleh tentara jepang,yang kemudian menghalangi massa dengan menutup jalan menuju lapangan ikada. Walaupun demikian,para pemuda tidak menghiraukannya dan justru semakin banyak masa yang memadati lapangan ikada,
                Salah seorang tokoh pemuda, yaitu sukarni, melaporkan kapada Ir.soekarno bahwa lapangan ikada yang akan di gunakan sebagai tempat pembacaan teks proklamasi telah di siapkan meskipun kondisinya disana kurang menguntungkan. Ir.soekarno yagn mendapat laporan dari sukarni tampaknya kurang sependapat jika pembacaan teks proklamasi kemerdekaan indonesia menggunakan lapangan ikada. Ketidak setujuan Ir soekarno ini di sebabkan pertimbangannya mengenai akibat dari upacara proklamasi yang bersifat masal, yaitu kemungkinan terjadinya bentrokan fisik dengan pasukan jepang yang bisa mengakibatkan korban jiwa cukup banyak.
                Pada akhirnya,beberapa tokoh yang hadir berspakat bahwa tempat pembacaan proklamasi kemerdekaan RI dialihkan ke rumah Ir.soekarno di jalan pegangsaan timur no.56 jakarta yang sekarang menjadi  gedung perintis kemerdekaan di jalan proklamasi jakarta. Akibat pemindahan tempat ini, semua tokoh golongan tua dan muda serta rakyat indonesia di jakarta dan sekitarnya segera menuju kediaman Ir soekarno tersebut. amenjabat sebagai walikota jakarata,sedangan koordinasi keaamanan di pimpin oleh syodanco latief Hendraningrat dan syodanco Arifin Abdurrahman.
                Para hadirin spontan berbaris dengan teratur dan terib untuk bisa menyaksikan proses keemerdakaan bangsa dan negara indonesia.persiapan proses kemerdekaan ini di lakukan secara spontan namun tetapi berlandasan  rasa kegotong royongan yang sangat tinggi. Bahkan,sebagian alat yang di butuhkan untuk pelaksanaan upcara secara darurat,misalnya pembuatan bendera merah puroltih yang akan di kibarkan adalah hasil jahitan ibu fatmawati soekarno.
               
    Pada tanggal 17 agustus 1945 pukul 09.50 wib, para tamu telah berdatangan dan para pemuda tidak bersama lagi untuk menunggu. Pada saat itu, dr.moewardi (salah satu tokoh pemuda ) menemui Ir.soekarno untuk menanyakan waktu pelaksanaan upacara.         Pertanyaan tersebut di jawab oleh Ir.soekarno bahwa pembacaan teks proklamasi kemerdekaan akan di laksanakan setelah Drs.moh.hatta hadir. Pada pukul 09.55 wib, Bung hatta tiba di rumah Bung karno dalam upacara segera di mulai tepat pukul 10.00 wib. Upacara kemerdekaan indonesia di mulai dan di awali dengan menyiapkan barisan oleh syodanco latief  Hendraningrat, kemudian di lanjutkan dengan pidato singkat dari Ir.soekarno dan pembacaan teks proklamasi yang di dampingi oleh Drs.moh.hatta. Bung karno dan bung hatta tampil kedepan dengan pengeras suara untuk menyampaikan pidato proklamasi yang dapat di lihat sebagai berikut.

                              Saudara-saudara sekalian!
        Saya minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun, kita bangsa Indonesia, telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun!

       Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju cita-cita, juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-berhenti..

      Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka.. Akan tetapi, pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan kita sendiri.

       Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri.. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

       Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari sekuruh Indonesia.. Permusyawaratan itu, seiya-sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
    Saudara-saudaraku! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu..
    Dengarlah proklamasi kami :





    Proklamasi
    Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
    Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

                                                     Jakarta hari 17 boelan 8 tahun ’45                 
                                                         Atas nama bangsa Indonesia,
                                                                  Soekarno-Hatta

    Teks proklamasi Indonesia yang di ketik dan tulisan tangan

         Demikianlah saudara-saudara!
        Kita sekarang telah merdeka!

        Tidak ada suatu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita.. Mulai saat ini kita menyusun negara kita, negara merdeka, negara Republik Indonesia, kekal, dan abadi, Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”.